Kamis, 28 Oktober 2010

Joglo Gudang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Maket Rumah Joglo Gudang
Rumah Joglo atau Rumah Joglo Gudang adalah satu rumah tradisional daerah Kalimantan Selatan (rumah Banjar) yang memiliki atap limas. Rumah Joglo disebut juga Rumah Bulat. Rumah seperti ini juga terdapat di kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Rumah Bulat ini terdapat di Desa Penghulu, Marabahan, Barito Kuala. Bentuk bangunan rumah Joglo terdiri atas 3 susunan atap limas yang berderet ke belakang dengan satu tambahan atap limas yang lebih kecil pada paling belakang yang merupakan bangunan dapur (Padu). Rumah limas seperti ini kalau di Jawa disebut Rumah Limasan Endas Telu merupakan tiga atap limas yang berderet ke belakang.
Di Banjarmasin juga terdapat jenis rumah Joglo yang disebut Joglo Gudang yaitu satu buah atap limas dengan disambung atap Sindang Langit di depan dan atap Hambin Awan di belakang. Terdapat juga model Joglo Gudang yang besar dengan tambahan serambi Pamedangan hingga ke samping kiri dan samping kanan rumah.
Secara etimologi berasal dari kata Joglo dan gudang. Dinamakan Rumah Joglo karena menyerupai model rumah limasan suku Jawa yang disebut rumah Joglo, sedangkan istilah 'gudang' karena pada bagian kolong rumah (yang dalam bahasa Banjar disebut berumahan) dipergunakan sebagai gudang untuk menyimpan hasil hutan, karet yang merupakan komoditas perdagangan pada zaman dulu.
Di Banjarmasin, rumah jenis ini banyak ditempati orang Tionghoa-Banjar. Rumah Joglo Gudang merupakan salah khasanah kekayaan arsitektur daerah Kalimantan Selatan yang pernah berkembang pada masa lampau.

Ruang

Ruang-ruang berturut-turut dari depan ke belakang terdiri atas :

Surambi Sambutan

Langsung ke: navigasi, cari
Surambi Sambutan dengan 4 buah pilar pada Rumah Bubungan Tinggi di Desa Telok Selong.
Varisai model Surambi Sambutan yang melingkar pada Gajah Manyusu terdapat di Kampung Melayu, Martapura.
Surambi Sambutan adalah ruang terbuka yang ditutupi atap pada teras/emper rumah Banjar yang berfungsi untuk menyambut tamu. Pada ruang terbuka ini bisanya terdapat pilar penyangga emper depan yang berjumlah 4 buah (pada rumah yang memakai teras samping, pilar depan berjumlah 6 buah). Atap emper ini disebut karbil yang beratap sengkuap yang dinamakan Sindang Langit.
Pada Surambi Sambutan biasanya terdapat Tangga Hadapan (tangga depan rumah) yang berbentuk :
  1. Tangga lurus ke depan
  2. Tangga Kembar Siam
Pada Surambi Sambutan kadang-kadang juga memakai pagar susur yang disebut Kandang Rasi. Demikian pula pada ambang atasnya terdapat semacam Kandang Rasi Atas berupa papan berukir yang dipasang berdiri. Sekeliling atap emper depan (Sindang Langit) terdapat cucur atap (banturan atap) yang memakai pilis (lisplang berukir) dengan bagian Ujung Pilis biasanya berupa ornamen flora, naga/burung enggang yang didestilir.
Pada Surambi Sambutan inilah biasanya seorang tamu yang dihormati akan disambut atau diantarkan ketika hendak pulang. Hal ini sebagai penghormatan untuk sang tamu, tetapi jika tamu yang tidak begitu penting hanya disambut/diantarkan kepulangannya dari serambi atas (Pamedangan) atau pintu masuk (Lawang Hadapan) saja.
Di sini seorang mempelai wanita menyambut kedatangan mempelai pria dalam upacara perkawinan untuk selanjutnya di bawa masuk ke dalam rumah menuju pelaminan dengan terlebih dahulu melalui acara berbalas pantun atau permainan pencak silat (ba-kuntau).

Pamedangan

Pamedangan pada rumah Batu (Palimbangan) yang berupa serambi setengah terbuka di Desa Pasayangan Selatan di Martapura, Banjar.
Rumah Tadah Alas dengan ciri khas Pamedangan kecil di tengah-tengah yang menjorok keluar.
Rumah Bangun Gudang yang memiliki ciri pada serambi Pamedangan yang kecil di tengah-tengah terdapat di dalam.

Pamedangan adalah ruang setengah terbuka rumah tradisonal suku Banjar (rumah Banjar) di Kalimantan Selatan. Di depan Pamedangan terdapat teras rumah yang disebut Surambi Sambutan.
Lapangan Pamedangan adalah tempat duduk beristirahat sore maupun malam hari. Di tempat ini terdapat sepasang kursi panjang yang diukir dan dilapis dengan tilam kampikan.
Antara ruang Lapangan Pamedangan yang dindingnya terbuka dan ruang Panampik Kacil dalam rumah terdapat Tawing Hadapan. Pada rumah-rumah tertentu sisi kanan maupun kiri Pamedangan dapat pula berupa dinding tertutup dengan jendela berdaun dua.
Langit-langit Pamedangan pada rumah Bubungan Tinggi tidak memakai plafon tetapi pada jenis rumah Banjar lainnya memakai plafon yang disebut galadak dengan ornamen yang dilukis. Pada langit-langit Pamedangan digantung dua buah lampu antik. Pada jenis rumah Banjar lainnya dapat mencapai 3 buah titik lampu.
Bagian-bagian pamedangan :
  1. Kandang Rasi
  2. Sungkul Tangga
  3. Tawing Hadapan
Bentuk pamedangan :
  1. Serambi penuh
  2. Serambi kecil di tengah-tengah
  3. serambi kecil yang menjorok keluar

Panampik Kacil

Pola umum denah rumah Bubungan Tinggi
Panampik Kacil atau Panurunan adalah sebuah ruang pada Rumah Bubungan Tinggi yang terletak di depan pintu masuk.
Sebelum memasuki ruangan ini terdapat sebuah Pacira di belakang Lawang Hadapan. Tingginya sama dengan Watun Sambutan selebar Lawang Hadapan.
Pacira dipakai sebagai tempat untuk menyimpan alat perikanan, pertukangan dan sebagainya.
Ruang Panampik Kacil atau Panurunan ini berfungsi sebagai lumbung padi (kindai) yaitu tempat menyimpan bahan makanan dalam waktu lama serta peralatannya.
Ruang ini dibatasi dengan pagar di kiri dan kanannya sehingga menjadi lorong yang menghubungkan Palatar dan ruang Panampik Tangah.
Dalam perkembangan selanjutnya ruang ini tidak lagi untuk penyimpanan padi. Lumbung padi dipindahkan ke Padapuran. Pada sisi kiri dan kanan terdapat jendela.
Peralatan yang terdapat pada ruang ini :
  1. Tempat tanggui besar dan kecil
  2. Tempat peralatan angkutan sungai seperti dayung, pananjak, dll
  3. Tombak duha
  4. Tempat gayung mandi, sandal, dll
  5. Lampu gantung kecil
  6. Pacira
  7. Hasil pertanian
Jika ada kenduri atau selamatan, ruang ini merupakan tempat duduk berkumpul para anak-anak laki-laki.

Panampik Basar

Pola umum denah rumah Bubungan Tinggi
Panampik Basar atau Paluaran adalah ruang utama pada bagian dalam rumah Bubungan Tinggi. Ruang Panampak Basar menghadap Tawing Halat (dinding tengah) yang dipenuhi dengan ornamen ukiran. Permukaan lantainya lebih tinggi dari ruang Panampik Tangah. Ambang lantainya disebut Watun Jajakan.
Ruang Panampik Basar berfungsi untuk menempatkan tamu yang berkunjung dan tempat kegiatan lainnya seperti selamatan, pertunjukkan Wayang Kulit Banjar, upacara Mambari Makan Tahun, Haul dan sebagainya.
Pada langit-langit ruang Panampik Basar digantung dua buah lampu gantung besar (lampu antik) yang berfungsi sebagai alat penerangan ruangan pada waktu malam hari.
Di tengah-tengah Tawing Halat (dinding tengah) dipajang sebuah cermin besar dan di depannya diletakkan sebuah bufet. Bagian tengah Tawing Halat ini dipasang papan yang dapat dilepas sewaktu-waktu jika diperlukan sehingga Ruang Panampik Basar dan Ruang Palidangan/Panampik Panangah yang ada di sisi dalam menjadi ruangan yang menyatu.
Pada bagian kiri dan bagian kanan Tawing Halat (dinding tengah) biasanya digantung tanduk menjangan dan sepasang tempat kopiah.
Jendela terdapat pada sisi kiri dan kanan ruangan dengan tetada.
Lantai ruang Panampik Basar pada umumnya dipasang tikar lampit rotan juran tiga bebujur.
Peralatan pada ruang ini:
  1. Lampu gantung besar
  2. Cermin besar dan bufet di depannya
  3. Gantungan dari tanduk menjangan dan sepasang sangkutan kopiah
  4. Jendela dengan tetadanya

Palidangan


Pola umum denah rumah Bubungan Tinggi (Palidangan terletak di tengah-tengah).
Palidangan atau Ambin Dalam adalah ruang dalam yang merupakan ruang induk pada jenis-jenis rumah Banjar. Pada Rumah Bubungan Tinggi, ruang ini disebut juga ruang Panampik Panangah. Ruang ini pada rumah Jawa dapat disamakan dengan bangunan/ruang Dalem. Ruang ini secara kosmologis merupakan pusat rumah atau titik tengah rumah, yang secara filosofi merupakan ruang yang paling penting (privat).
Ruang Palidangan berbatasan dengan ruang Panampik Basar pada sisi depan, dengan ruang Panampik Dalam pada sisi belakang dan Anjung pada sisi kiri dan kanan. Ruang Palidangan ditutupi oleh atap Bubungan Tinggi.
Lantai Palidangan merupakan lantai rumah panggung. Lantai Palidangan sama tingginya dengan ruang Panampik Basar, tetapi ada juga beberapa rumah yang membuat lantai Panampik Basar lebih rendah dari lantai ruang Palidangan.
Di dalam ruang ini terdapat tiang-tiang besar (berjumlah 8 batang) yang menyangga Bubungan Tinggi yang disebut Tihang Pitugur atau Tihang Guru. Tihang Pitugur membentuk konstruksi utama bangunan yang disebut Sangga Ribut.
Karena dasar (ambang bawah) dari dua buah pintu yang ada di Tawing Halat (bahasa Jawa disebut Seketeng) tidak sampai ke dasar lantai maka watun(ambang pintu) pada Tawing Halat disebut Watun Langkahan. Kalau ada pertunjukan Wayang Kulit Banjar atau upacara perkawinan maka bagian tengah Tawing Halat yang merupakan pemisah ruang Palidangan (Pringgitan) dengan ruang Paluaran dibuka, sehingga menjadi suatu ruang yang besar.

[sunting] Fungsi Ruang

Fungsi Palidangan adalah untuk menempatkan tamu wanita dan kerabat dekat ketika mengadakan selamatan atau acara keramaian lainnya seperti menyampir (nanggap) Wayang Kulit Banjar (bawayang) dan acara perkawinan. Dalam ruang inilah pada zaman dahulu, Ki Dalang meletakkan perlengkapan pertunjukkan wayang dan memainkan lakon pewayangannya.

[sunting] Peralatan

Peralatan yang disimpan pada ruang ini misalnya :
  1. Sampiran senjata
  2. Lemari besar untuk menyimpan alat-alat upacara
  3. Kanap (meja kecil tempat air minum)
  4. Kursi malas
  5. Lemari besar untuk menyimpan barang pecah belah
  6. Lemari buta (lemari tanpa kaca untuk menyimpan alat-alat dapur)
  7. Kanap
  8. Tikar hambal (permadani)

Panampik Dalam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pola umum denah rumah Bubungan Tinggi
Panampik Dalam atau Panampik Bawah adalah ruang belakang pada rumah Banjar. Ruangan ini berada diantara ruang Palidangan/Panampik Panangah (sisi depan) dengan ruang Padapuran/Padu (sisi belakang). Pada ruang inilah biasanya ibu-ibu berkumpul untuk menyiapkan hidangan dalam suatu acara selamatan yang mengundang banyak tamu.
Permukaan lantainya lebih rendah dari ruang Panampik Panangah. Ambang lantainya disebut Watun Jajakan.

adapuran

Model Bangunan Dapur pada Rumah Banjar.
Pola umum denah rumah Banjar
Padapuran atau Padu adalah ruang pantry pada rumah Banjar (rumah Bubungan Tinggi) yang terletak pada bagian paling belakang rumah Banjar dan pada bagian tersebut terdapat ruang Pambasuhan (Ruang Basuhan) untuk tempat mencuci. Pada Rumah Bubungan Tinggi, biasanya permukaan lantainya lebih rendah dari ruang Panampik Dalam dan ambang lantainya disebut Watun Juntaian. Watun juntaian tersebut diberi tangga untuk turun-naik dari ruang Panampik Bawah ke Padapuran. Sedangkan dari halaman belakang rumah terdapat satu tangga naik ke ruang Padapuran dari arah belakang atau dari arah samping.
Ruang Padapuran berfungsi tempat untuk memasak makanan dan mencuci.
Pada rumah Bubungan Tinggi, Bubungan atap ruang Padapuran pada umumnya merupakan sambungan dari atap Hambin Awan, tetapi sering juga ruang Padapuran ini menjadi sebuah bangunan kecil dengan bubungan atap tersendiri dengan berbagai model variasi atap.
Peralatan pada ruang ini:
  1. Ayunan anak-anak
  2. Lemari yang berisi peralatan dapur
  3. Hamparan lampit untuk makan
  4. Rak piring, mangkok, gelas dan sebagainya
  5. Pedaringan beras
  6. Tajau (tempayan) berisi air minum
  7. kanap tempat lampu dan alat penerangan lain
  8. Dapur (tungku) dan salaian (tempat mengeringkan kayu bakar)
  9. Kindai banih (lumbung padi)

Keterangan

Menurut salah satu literatur, bahwa : "Golongan Tionghoa kaya umumnya membangun rumah tipe Joglo, dengan teknik Banjar. Beratap limasan, bertiang tinggi yang kadang-kadang penuh ukiran. Bagian bawah rumah berfungsi sebagai gudang penyimpanan hasil hutan, karet dan sebagainya."
Menurut penelitian Tim Muskala (Museum dan Purbakala), Depdikbud Kalsel (dahulu) terdapat 2 macam rumah joglo di Kalimantan Selatan yaitu :
  1. Joglo Gudang dengan ciri-ciri; atap berbentuk limasan bertiang tinggi, bagian bawah rumah menjadi tempat menyimpan barang hasil hutan, ukuran rumah sangat besar lebih dari 40 meter.
  2. Joglo Segi Empat dengan ciri-ciri; bentuk rumah segi empat dan ukuran lebih kecil.
(Depdikbud Kalsel).

[sunting] Galeri



Tidak ada komentar:

Posting Komentar